Prodi PGSD Universitas Alma Ata
Yogyakarta — Memasuki usia praremaja, anak sekolah dasar mulai mengalami berbagai perubahan dalam sikap dan perilakunya. Perubahan tersebut dapat terlihat dari kebiasaan sehari-hari, cara berkomunikasi, hingga pola interaksi dengan keluarga, guru, dan teman sebaya. Masa praremaja merupakan fase perkembangan yang penting karena pada tahap ini anak mulai mengembangkan kemandirian serta memiliki keinginan yang lebih besar untuk menentukan pilihan dalam kehidupannya sendiri.
Perubahan sikap yang muncul pada masa ini sering kali membuat orang tua merasa bahwa anak menjadi lebih sulit diarahkan dibandingkan sebelumnya. Namun, perubahan tersebut tidak selalu menunjukkan perilaku negatif. Sebaliknya, hal itu merupakan bagian dari proses perkembangan ketika anak mulai mengenal identitas diri dan memahami lingkungan sosialnya secara lebih luas. Oleh karena itu, pemahaman mengenai karakteristik perkembangan praremaja menjadi penting bagi orang tua maupun pendidik dalam memberikan pendampingan yang tepat.
Salah satu perubahan yang umum terjadi adalah meningkatnya keinginan anak untuk melakukan sesuatu berdasarkan pilihannya sendiri. Anak mulai berani menyampaikan pendapat, mempertanyakan aturan yang berlaku, bahkan menolak hal-hal yang dianggap tidak sesuai dengan keinginannya. Selain itu, mereka juga mulai menunjukkan minat yang lebih besar terhadap aktivitas di luar lingkungan keluarga, seperti bermain bersama teman, mengikuti kegiatan sekolah, maupun mengembangkan hobi tertentu yang diminati.
Jika ditinjau dari perspektif behavioristik, perilaku anak terbentuk melalui pengalaman belajar dan pengaruh lingkungan di sekitarnya. Anak cenderung mengulangi perilaku yang memperoleh respons positif. Sebagai contoh, ketika anak mendapatkan pujian setelah menyelesaikan tugas atau membantu orang lain, pengalaman tersebut dapat menjadi penguat yang mendorong anak untuk kembali melakukan perilaku yang sama.
Sebaliknya, respons terhadap perilaku yang kurang tepat juga berperan dalam membentuk kebiasaan anak. Oleh sebab itu, orang tua dan guru perlu memberikan batasan serta konsekuensi yang jelas, disertai komunikasi yang baik dan penghargaan terhadap usaha yang dilakukan anak. Pendekatan yang seimbang antara aturan dan dukungan emosional akan membantu anak berkembang secara lebih optimal.
Dalam aspek sosial, anak yang memasuki masa praremaja mulai memberikan perhatian yang lebih besar kepada teman sebaya. Penerimaan dari kelompok menjadi salah satu hal yang dianggap penting. Melalui interaksi sosial, anak belajar bekerja sama, berbagi, berkomunikasi, menyelesaikan konflik, serta menyesuaikan diri dengan aturan yang berlaku dalam kelompok.
Lingkungan sosial memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk perilaku anak pada tahap ini. Lingkungan pertemanan yang positif dapat membantu anak mengembangkan sikap saling menghargai, bertanggung jawab, dan peduli terhadap orang lain. Sebaliknya, lingkungan yang kurang mendukung berpotensi mendorong anak meniru perilaku yang kurang baik. Oleh karena itu, pengawasan dan pendampingan dari orang tua serta guru tetap diperlukan meskipun anak mulai menunjukkan kemandirian yang lebih tinggi.
Menanggapi fenomena tersebut, An-Nisa Apriani, S.Pd., M.Pd., dosen Pendidikan Inklusi Prodi PGSD Universitas Alma Ata, menyampaikan bahwa masa praremaja merupakan fase penting dalam pembentukan karakter dan keterampilan sosial anak.
“Perubahan sikap yang muncul pada anak menjelang masa remaja merupakan bagian dari proses perkembangan yang normal. Orang tua dan guru perlu memahami bahwa anak sedang belajar mengenali dirinya sendiri serta lingkungan sosialnya. Pendampingan yang tepat akan membantu anak mengembangkan sikap positif dan kemampuan mengambil keputusan yang bertanggung jawab.”
Perubahan sikap anak sekolah dasar menjelang masa praremaja merupakan bagian dari proses perkembangan yang wajar. Perubahan tersebut dapat terlihat melalui kebiasaan sehari-hari, cara berkomunikasi, keinginan untuk lebih mandiri, hingga pola bersosialisasi dengan teman sebaya.
Oleh karena itu, orang tua dan guru tidak hanya perlu memberikan aturan, tetapi juga memahami alasan di balik perubahan perilaku yang ditunjukkan anak. Melalui teladan yang baik, komunikasi yang terbuka, serta penguatan positif yang konsisten, anak dapat belajar membangun kebiasaan dan perilaku sosial yang lebih positif. Pendampingan yang tepat pada masa ini akan membantu anak mempersiapkan diri menghadapi masa remaja dengan lebih percaya diri dan bertanggung jawab.
Referensi:
Durrina, A., Kamalia, D. N., & Huda, I. H. (2024). Understanding Puberty Education As a Self Protection Measure for Primary Elementary School. International Conference On Humanity Education And Society (ICHES), 3(1).
Kata Kunci: Perubahan Sikap Anak, Praremaja, Sekolah Dasar, PGSD UAA, Prodi PGSD Universitas Alma Ata, Perkembangan Sosial Anak
Author: An-Nisa Apriani & Delira Amanda
Sumber Gambar: https://www.istockphoto.com/