Membaca sering kali dianggap sebagai kegiatan yang serius dan membosankan. Padahal, jika dikemas dengan menyenangkan, membaca bisa menjadi aktivitas yang seru dan penuh kreativitas. Hal inilah yang coba dilakukan melalui kegiatan “Literasik (Literasi Asik)” yang diselenggarakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Alma Ata Yogyakarta di SD Negeri Sambikerep.

Kegiatan ini dilaksanakan di perpustakaan sekolah bersama siswa kelas IV. Program Literasik menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa PGSD Universitas Alma Ata dalam mendukung budaya literasi di sekolah dasar. Tujuannya adalah menumbuhkan minat baca sekaligus melatih keberanian, kreativitas, dan kepercayaan diri siswa dalam menyampaikan kembali apa yang telah mereka baca.

Literasi tidak hanya sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan memahami, mengolah, dan menyampaikan informasi. Karena itu, kegiatan literasi yang menarik dan sesuai dengan dunia anak sangat dibutuhkan sejak sekolah dasar.

Dari Membaca Jadi Sebuah Karya

Sebanyak 22 siswa kelas IV mengikuti kegiatan Literasik. Kegiatan diawali dengan observasi perpustakaan dan persiapan bersama pihak sekolah. Setelah siap, siswa mendapatkan buku cerita untuk dibaca secara mandiri selama kurang lebih 15 menit. Selama membaca, siswa didampingi sehingga dapat bertanya ketika menemukan bagian cerita yang sulit dipahami.

Setelah membaca, siswa diajak mengubah isi bacaan menjadi sebuah karya. Ada yang memilih menggambar, membuat cerita kembali, dan membuat puisi. Siswa bebas memilih karya sesuai minat dan kemampuan. Dengan cara ini, kegiatan membaca terasa lebih hidup karena siswa dapat menuangkan pemahamannya melalui kreativitas.

Berani Tampil di Depan Teman

Setelah karya selesai, siswa diberikan kesempatan untuk maju dan mempresentasikan hasilnya di depan teman-teman. Mereka tidak langsung ditunjuk, tetapi diberi kesempatan untuk mengajukan diri.

Awalnya masih ada yang malu atau ragu. Namun, beberapa siswa akhirnya berani maju ke depan. Sebagai bentuk apresiasi, siswa yang mempresentasikan karyanya mendapatkan hadiah.

Dari sini terlihat bahwa Literasik bukan hanya tentang membaca. Siswa juga belajar berbicara, menyampaikan pendapat, menghargai karya, dan percaya pada kemampuan diri sendiri.

Perpustakaan Jadi Lebih Hidup

Kegiatan Literasik membuat perpustakaan memiliki suasana berbeda. Perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang untuk berdiskusi, berkarya, dan belajar bersama.

Kegiatan tersebut mendapat penguatan dari Bapak Ismanto, selaku dosen Bahasa Indonesia Program Studi PGSD Universitas Alma Ata Yogyakarta. Menurutnya, kegiatan literasi perlu dikemas menarik agar siswa tidak hanya membaca, tetapi juga memahami dan menyampaikan kembali informasi.

“Kegiatan literasi sebaiknya tidak berhenti pada aktivitas membaca saja. Anak perlu diberikan kesempatan untuk memahami isi bacaan, mengolahnya menjadi sebuah karya, kemudian menyampaikan hasilnya. Dengan begitu, kemampuan membaca sekaligus berbicara dan kreativitas siswa dapat berkembang secara bersama-sama,”

Tidak Selalu Berjalan Mulus

Kegiatan Literasik juga memiliki tantangan, salah satunya waktu pelaksanaan yang terbatas karena sebelumnya siswa mengikuti pembelajaran olahraga. Selain itu, kemampuan membaca setiap siswa berbeda-beda. Ada yang memahami bacaan dengan cepat, sementara lainnya membutuhkan pendampingan lebih banyak.

Namun, perbedaan tersebut menjadi pengingat bahwa kegiatan literasi perlu dilakukan dengan pendekatan yang fleksibel dan menyenangkan.

Literasi Asik, Belajar Jadi Menarik

Secara keseluruhan, kegiatan Literasik mendapatkan respons positif dari siswa. Mereka terlihat antusias mengikuti kegiatan membaca, membuat karya, hingga mempresentasikannya di depan teman-teman.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa literasi tidak harus dilakukan secara monoton. Membaca dapat dilanjutkan dengan menggambar, menulis, bercerita, membuat puisi, atau berbagai kegiatan kreatif lainnya. Harapannya, Literasik dapat terus dikembangkan di SD Negeri Sambikerep sehingga siswa semakin terbiasa membaca dan memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber belajar.

Referensi

Hasan, M., Nurtrida, N., Arisah, N., & Nuraisyiah. (2022). Implementasi budaya literasi melalui optimalisasi perpustakaan di sekolah dasar. Jurnal Eduscience (JES), 9(1), 121–133.

Khusna, S., Mufridah, L., & Sakinah, N. (2022). Gerakan literasi dalam meningkatkan minat baca siswa sekolah dasar. Dawuh Guru: Jurnal Pendidikan MI/SD, 2(2), 1–12. https://doi.org/10.35878/guru/v2.i2.454

Rafida, H., Samsudi, & Doyin, M. (2022). Implementasi Gerakan Literasi Sekolah dalam mengembangkan literasi baca tulis siswa sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 6(3), 4745–4755. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i3.2884

Kata kunci : Literasi, minat baca, siswa sekolah dasar, perpustakaan sekolah, kreativitas, Literasik.

Penulis : Rohmah