Urgensi Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka
Pembelajaran berdiferensiasi merupakan salah satu pendekatan utama dalam implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah dasar. Pendekatan ini menekankan pada pemenuhan kebutuhan belajar peserta didik yang beragam, baik dari segi kesiapan belajar, minat, maupun gaya belajar. Oleh karena itu, calon guru Sekolah Dasar (PGSD) sebagai pendidik masa depan perlu memiliki pemahaman dan kesiapan yang baik dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas.
Pandangan Positif Calon Guru PGSD terhadap Pembelajaran Berdiferensiasi
Persepsi calon guru PGSD terhadap pembelajaran berdiferensiasi umumnya bersifat positif. Sebagian besar calon guru memandang bahwa pembelajaran berdiferensiasi mampu meningkatkan keaktifan siswa, membantu siswa memahami materi sesuai kemampuannya, serta menciptakan pembelajaran yang lebih adil dan inklusif. Calon guru juga menyadari bahwa setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda sehingga pembelajaran yang seragam tidak selalu efektif diterapkan di sekolah dasar.
Peran Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Pendidikan Sekolah Dasar
Dalam konteks pendidikan sekolah dasar, pembelajaran berdiferensiasi memiliki peran strategis karena siswa berada pada fase perkembangan yang sangat beragam, baik secara kognitif, sosial, maupun emosional. Calon guru PGSD memandang bahwa diferensiasi pembelajaran sejalan dengan prinsip pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student-centered learning). Melalui pendekatan ini, guru dapat menyesuaikan konten, proses, dan produk pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa, sehingga potensi setiap peserta didik dapat berkembang secara optimal.
Meskipun demikian, calon guru PGSD juga menghadapi berbagai tantangan dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi. Tantangan utama yang dirasakan adalah keterbatasan pemahaman praktis mengenai strategi diferensiasi di kelas. Banyak calon guru mengaku masih kesulitan dalam merancang perangkat pembelajaran, seperti modul ajar dan asesmen, yang mampu mengakomodasi perbedaan kemampuan siswa. Selain itu, keterbatasan pengalaman mengajar di kelas yang heterogen menjadi faktor penghambat dalam mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi secara optimal.
Harapan Calon Guru terhadap Penguatan Kompetensi Diferensiasi
Tantangan lainnya berkaitan dengan manajemen kelas dan waktu pembelajaran. Pembelajaran berdiferensiasi dianggap membutuhkan perencanaan yang lebih matang serta waktu yang lebih panjang dibandingkan pembelajaran konvensional. Calon guru juga memandang bahwa jumlah siswa yang banyak dalam satu kelas dapat menyulitkan guru untuk memberikan perhatian secara individual kepada setiap peserta didik. Di samping itu, keterbatasan media pembelajaran dan sarana pendukung di sekolah dasar turut menjadi kendala dalam penerapan diferensiasi pembelajaran.
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, calon guru PGSD memiliki harapan besar terhadap pembelajaran berdiferensiasi. Mereka menilai bahwa penguatan materi tentang pembelajaran berdiferensiasi dalam perkuliahan, pelatihan praktik mengajar, serta pendampingan selama program praktik lapangan dapat membantu meningkatkan kesiapan mereka sebagai guru profesional.
Kesimpulan
Persepsi calon guru PGSD terhadap pembelajaran berdiferensiasi menunjukkan sikap yang positif, namun masih diiringi oleh berbagai tantangan, terutama dalam aspek perencanaan, manajemen kelas, dan pengalaman praktik. Oleh karena itu, diperlukan penguatan pembekalan pedagogik dan praktik pembelajaran berdiferensiasi agar calon guru PGSD siap menerapkannya secara efektif di sekolah dasar.
Keywords : Pembelajaran berdiferensiasi, Persepsi Calon Guru, Prodi PGSD, PGSD Terbaik, Kurikulum Merdeka, Sekolah Dasar
Penulis : An-Nisa Apriani, M.Pd, dan Naila Ilma Kauni
Sumber gambar : Dokumentasi penulis (Ilustrasi AI – OpenAI)
Sumber Referensi :
Tomlinson, C. A. (2017). How to Differentiate Instruction in Academically Diverse Classrooms. ASCD.
Kemendikbudristek. (2022). Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka.
Suryani, N., & Agung, L. (2021). Strategi Pembelajaran Inovatif. Yogyakarta: Ombak.