Keaktifan belajar siswa merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan pembelajaran di sekolah dasar. Siswa yang aktif cenderung lebih mudah memahami materi, berpartisipasi dalam diskusi kelas, serta menunjukkan motivasi belajar yang tinggi. Namun, pembelajaran di banyak sekolah dasar masih didominasi pendekatan tradisional yang kurang melibatkan siswa secara langsung. Untuk itu, guru perlu menerapkan model pembelajaran inovatif agar proses belajar menjadi lebih menarik dan partisipatif.
Model Pembelajaran Inovatif dalam SD
Model pembelajaran inovatif adalah pendekatan yang mengganti peran guru dari sekadar pemberi materi menjadi fasilitator belajar yang mendorong siswa aktif berpikir, berkolaborasi, dan menyelesaikan tugas secara kreatif. Salah satu model yang sering digunakan adalah Project Based Learning (PjBL). Model ini memberikan pengalaman belajar melalui proyek nyata sehingga siswa tidak hanya menerima materi, tetapi aktif memecahkan masalah dan bekerja dalam kelompok. Penelitian terbaru menunjukkan PjBL efektif meningkatkan keaktifan siswa SD dalam berbagai mata pelajaran, seperti IPA dan Bahasa Indonesia.
Selain PjBL, model seperti Discovery Learning juga banyak digunakan. Model ini memberi ruang pada siswa untuk menemukan konsep pembelajaran melalui eksplorasi langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan discovery learning dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran tematik maupun materi tertentu di kelas.
Pengaruh Terhadap Keaktifan Belajar
Penerapan model inovatif seperti PjBL dan Discovery Learning telah terbukti secara empiris dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa sekolah dasar. Dalam penelitian tindakan kelas di SD, keaktifan siswa meningkat secara signifikan setelah penggunaan model PjBL, mulai dari kategori rendah menjadi kategori tinggi. Demikian pula penggunaan discovery learning berhasil memicu siswa untuk lebih aktif bertanya, berdiskusi, dan berpartisipasi dalam kegiatan belajar.
Keaktifan belajar sendiri mencakup partisipasi dalam diskusi kelas, keterlibatan saat bekerja kelompok, kemampuan mengajukan pertanyaan, dan ketertarikan terhadap materi pembelajaran. Model inovatif menyediakan konteks belajar yang relevan dan menantang sehingga siswa merasa terlibat dan bertanggung jawab atas proses belajarnya sendiri.
Dukungan Guru dalam Implementasi
Agar model pembelajaran inovatif berjalan efektif, peran guru sangat penting. Guru perlu memahami sintaks model pembelajaran dan mampu merancang aktivitas yang memicu keterlibatan siswa. Guru juga perlu memilih media dan sumber belajar yang sesuai serta memberikan umpan balik yang memotivasi siswa untuk terus aktif dalam belajar.
Kesimpulan
Penerapan model pembelajaran inovatif seperti Project Based Learning dan Discovery Learning terbukti meningkatkan keaktifan belajar siswa sekolah dasar. Dengan pendekatan yang lebih student-centered dan kontekstual, proses pembelajaran menjadi lebih interaktif, menarik, dan bermakna. Guru sebagai fasilitator perlu terus mengembangkan kompetensi dalam menerapkan model-model ini agar pembelajaran di sekolah dasar semakin optimal.
Keywords : Keaktifan belajar siswa, Pembelajaran inovatif, Project Based Learning, Discovery Learning, Sekolah dasar, PGSD terbaik
Penulis : An-Nisa Apriani, M.Pd. dan Nadia Qistina
Sumber gambar : https://www.kalderanews.com/wp-content/uploads/2019/06/Siswa-SD-640×381.png
Sumber referensi
Anggraini & Hardini (2024). Peningkatan keaktifan belajar dan berpikir kreatif siswa melalui model PjBL. JIIP – Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan.
Harahap dkk. (2024). Peningkatan keaktifan belajar Peserta Didik menggunakan model PjBL pada Bahasa Indonesia. JIIP – Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan.
Prasetyo & Abduh (2025). Peningkatan keaktifan belajar siswa melalui Discovery Learning. Jurnal Basicedu.
Nurlaela dkk. (2023). Penerapan Discovery Learning untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Pinisi Journal Pendidikan Guru Sekolah Dasar.