YOGYAKARTA – Bulan Suci Ramadhan bukan menjadi alasan bagi kegiatan belajar mengajar di Sekolah Dasar (SD) untuk kehilangan semangatnya. Sebaliknya, momen ini merupakan kesempatan emas bagi para pendidik untuk menerapkan pembelajaran yang jauh lebih dalam (Deep Learning) melalui penguatan karakter dan empati sosial. Transformasi kurikulum selama bulan suci ini mengalihkan fokus dari beban tugas akademik yang berat menuju aktivitas yang menyentuh hati dan relevan dengan kehidupan siswa, yang kini mulai dikenal secara luas sebagai konsep “Ramadhan Bermakna”.

Menjadikan Puasa Sebagai Media Belajar

Implementasi kurikulum Ramadan di tingkat SD tidak lagi sekadar tentang pengurangan jam belajar atau memulangkan siswa lebih awal. Pendidik didorong untuk mengisi waktu yang tersedia dengan tiga pilar utama pembelajaran mendalam agar proses belajar tetap produktif namun tidak membebani fisik siswa yang sedang berpuasa:

  1. Mindful (Refleksi Diri): Melalui sesi “Jurnal Ramadhan”, siswa diajak untuk lebih sadar akan setiap tindakan mereka. Guru mengarahkan siswa bukan sekadar mencatat jadwal salat secara administratif, tetapi melakukan refleksi harian tentang kebaikan apa yang telah mereka lakukan atau emosi apa yang mereka rasakan saat berpuasa. Hal ini melatih kesadaran diri (self-awareness) dan kejujuran sejak dini.
  2. Meaningful (Koneksi Nyata): Pembelajaran menjadi bermakna ketika guru mampu mengaitkan pelajaran sains atau sosial dengan nilai-nilai puasa. Sebagai contoh, dalam pelajaran IPA, siswa diajak mempelajari sistem pencernaan manusia dan manfaat puasa bagi kesehatan organ tubuh. Dalam pelajaran IPS, siswa dapat mengeksplorasi geografi melalui sejarah persebaran Islam di Nusantara atau tradisi lokal unik yang berkaitan dengan kebersamaan masyarakat saat Ramadan.
  3. Joyful (Kegembiraan Spiritual): Untuk menjaga antusiasme, sekolah mengganti ujian tertulis yang kaku dengan proyek kreatif. Aktivitas seperti membuat kartu ucapan digital, merancang dekorasi kelas dari bahan daur ulang, atau mengadakan kompetisi dongeng kisah nabi yang interaktif memberikan pengalaman belajar yang menggembirakan tanpa tekanan kompetisi yang berlebihan.

Pesantren Kilat yang Modern

Implementasi nyata terlihat pada perubahan format Pesantren Kilat (Sanlat) yang kini lebih adaptif. Sanlat modern tidak lagi didominasi oleh ceramah panjang satu arah yang sering kali membuat siswa mengantuk, melainkan diisi dengan kegiatan problem-based learning. Contohnya, siswa ditantang untuk mengelola “Bank Infaq” kelas. Dalam proyek ini, mereka belajar manajemen keuangan sederhana sekaligus menumbuhkan jiwa filantropi dengan menyalurkan bantuan kepada warga sekolah atau masyarakat sekitar yang membutuhkan.

Melalui pendekatan terpadu ini, siswa SD tidak hanya belajar bahwa puasa adalah tentang menahan lapar dan haus semata. Mereka memahami bahwa Ramadan adalah waktu untuk pertumbuhan karakter, peningkatan intelektual, dan penguatan empati sosial melalui pengalaman belajar yang menyenangkan.

Kata Kunci: Sekolah Ramadhan, Karakter, Pembelajaran Bermakna, Prodi PGSD Terbaik, PGSD Universitas Alma Ata

Author: Nurul Fauziah dan An-Nisa Apriani, M.Pd

 

Daftar Pustaka

Hidayat, A., & Syaifuddin, M. (2022). Implementasi Nilai-Nilai Karakter Religius dalam Pembelajaran di Sekolah Dasar pada Bulan Ramadhan. Jurnal Pendidikan Dasar Nusantara, 8(1), 45-58.

DOI: https://www.google.com/search?q=https://doi.org/10.29408/jpdn.v8i1.5678 URL: https://www.google.com/search?q=https://ojs.unpkediri.ac.id/index.php/pgridn/index