
Pendahuluan: Memahami Pendidikan Inklusif
Pendidikan inklusif adalah sebuah pendekatan sistematis yang memberikan kesempatan belajar setara bagi seluruh peserta didik dalam satu lingkungan pendidikan, tanpa terkecuali bagi anak berkebutuhan khusus1. Dasar pelaksanaan kebijakan ini di Indonesia berpijak pada Permendiknas No. 70 Tahun 2009, yang menegaskan bahwa pendidikan harus diselenggarakan tanpa diskriminasi2. Pada tingkat Sekolah Dasar (SD), guru memegang peranan vital dalam menciptakan suasana kelas yang mampu menerima keberagaman tersebut3.
Mahasiswa PGSD Universitas Alma Ata sejak dini dipersiapkan untuk menginternalisasi konsep inklusi ini4. Melalui kombinasi pembelajaran teoritis dan praktik lapangan, mereka dibekali kemampuan untuk menghadapi berbagai perbedaan karakteristik siswa di masa depan5.
Kompetensi Multidimensional Calon Guru
Untuk mewujudkan sekolah dasar yang inklusif, mahasiswa PGSD Alma Ata dibekali dengan empat kompetensi utama:
- Kompetensi Pedagogik: Calon guru dilatih untuk menyusun pembelajaran yang fleksibel dan adaptif6. Mereka menerapkan landasan Universal Design for Learning (UDL) dan pembelajaran berdiferensiasi guna memastikan materi pelajaran dapat diakses oleh semua siswa7. Melalui latihan microteaching, mahasiswa belajar menyiapkan RPP yang ramah terhadap berbagai kebutuhan8.
- Kompetensi Profesional: Mahasiswa diwajibkan memahami karakteristik berbagai hambatan belajar, seperti autisme, disleksia, tunagrahita, hingga ADHD9. Pemahaman ini diperkuat melalui Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di mana mereka berkolaborasi langsung dengan Guru Pendamping Khusus (GPK)10.
- Kompetensi Sosial: Calon guru harus mampu membangun lingkungan aman yang mendorong kerja sama antarsiswa11. Nilai-nilai empati dan toleransi ditanamkan melalui program khusus seperti Living Values Education Program (LVEP)12.
- Kompetensi Kepribadian: Karakter yang sabar, adil, dan berintegritas sangat krusial dalam menghadapi dinamika kelas inklusif13. Pembentukan karakter ini dilakukan secara konsisten melalui kegiatan akademik dan organisasi kampus14.
Tantangan dan Strategi Penguatan
Meskipun persiapan telah dilakukan, calon guru masih menghadapi beberapa kendala nyata, seperti keterbatasan fasilitas sekolah, pengalaman praktik yang belum merata, serta masih rendahnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya pendidikan inklusif15.
Untuk menjawab tantangan tersebut, PGSD Universitas Alma Ata menerapkan beberapa strategi penguatan, di antaranya16:
- Integrasi kompetensi inklusi ke dalam seluruh mata kuliah pedagogik17.
- Mewajibkan praktik mengajar di sekolah-sekolah inklusi18.
- Menyelenggarakan workshop bersama psikolog pendidikan dan Guru Pendamping Khusus (GPK)19.
- Memperkuat kolaborasi dengan sekolah mitra untuk riset dan pelatihan inklusi secara berkelanjutan20.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, mahasiswa PGSD Universitas Alma Ata memegang peran signifikan dalam menghadirkan pendidikan inklusif yang berkualitas di Indonesia21. Melalui penguasaan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian yang matang, mereka diharapkan mampu melayani seluruh siswa dengan optimal tanpa adanya diskri minasi di masa depan
Kata Kunci: Calon Guru; Pendidikan Inklusif; Sekolah Dasar, Prodi PGSD
Penulis: An Nisa Apriani, M.pd,. dan Della Sevita
Sumber artikel: