Pendahuluan

Perkembangan teknologi yang pesat membawa dunia ke era Society 5.0, konsep dari Jepang yang mengintegrasikan ruang siber dan fisik untuk menyeimbangkan kemajuan ekonomi dan penyelesaian masalah sosial. Dalam ekosistem cerdas berbasis Big Data, AI, dan IoT, pendidikan dituntut bertransformasi. Tantangan utama bukan hanya penguasaan teknis, tetapi menjaga dan mengembangkan nilai kemanusiaan. Karena itu, pendidikan karakter yang menekankan moral dan etika menjadi semakin penting.

Society 5.0 dan Pergeseran Kebutuhan Karakter

Society 5.0 menekankan manusia sebagai pusat, berbeda dari Revolusi Industri 4.0. Meski teknologi dapat menggantikan tugas rutin, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan interaksi manusiawi tetap tak tergantikan. Dalam ekosistem yang makin terhubung, kurangnya empati dan kerja sama dapat menimbulkan disrupsi sosial. Karena itu, empati dan kolaborasi menjadi nilai sosial yang sangat penting.

Mengembangkan Empati di Tengah Dominasi Gawai

Empati adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan apa yang dialami orang lain. Di era digital, interaksi tatap muka semakin berkurang, digantikan oleh komunikasi virtual yang sering kali menghilangkan nuansa emosi dan konteks. Hal ini berpotensi menyebabkan ‘defisit empati’ pada generasi muda. Pendidikan harus menciptakan lingkungan belajar yang mempromosikan interaksi otentik. Ini dapat dilakukan melalui:

  1. Pembelajaran Berbasis Proyek (PBP) Sosial: Proyek yang melibatkan pemecahan masalah nyata di komunitas, memaksa siswa untuk memahami perspektif dan kebutuhan orang lain (misalnya, membuat solusi IoT sederhana untuk masalah lingkungan di sekitar sekolah).
  2. Integrasi Mindfulness dan Diskusi Etika: Mengajarkan siswa untuk mengenali emosi mereka sendiri dan emosi orang lain, serta berdiskusi tentang dilema etika yang muncul akibat penggunaan AI atau teknologi.

Kolaborasi sebagai Kunci Sukses dalam Ekosistem Cerdas

Society 5.0 dicirikan oleh super-kolaborasi di berbagai bidang. Dalam pekerjaan masa depan, kemampuan untuk bekerja lintas disiplin ilmu dan memanfaatkan kekuatan kolektif sangat penting. Kolaborasi bukan hanya tentang berbagi tugas, tetapi juga tentang menyatukan perspektif, menghargai keragaman, dan mencapai tujuan bersama. Strategi pendidikan untuk memupuk kolaborasi meliputi:

  1. Pembelajaran Tim Lintas Kompetensi: Membentuk kelompok belajar yang anggotanya memiliki latar belakang atau minat yang berbeda (misalnya, siswa yang unggul di seni dipasangkan dengan siswa yang unggul di sains) untuk menyelesaikan tantangan bersama.
  2. Pemanfaatan Tools Kolaborasi Digital: Menggunakan platform daring (cloud-based collaboration tools) yang canggih sejak SD untuk membiasakan siswa bekerja secara remote dan sinkron, meniru lingkungan kerja profesional Society 5.0

Kesimpulan

Pendidikan karakter di Society 5.0 harus berfokus pada penyiapan manusia yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga cerdas secara emosional dan sosial. Dengan mengutamakan empati, kita memastikan bahwa teknologi digunakan untuk kesejahteraan manusia, bukan sebaliknya. Dengan mengasah kolaborasi, kita melatih generasi untuk memanfaatkan konektivitas era digital guna menciptakan inovasi yang berdampak positif. Mendidik empati dan kolaborasi adalah investasi penting untuk memastikan bahwa Ekosistem Cerdas Society 5.0 benar-benar menjadi masyarakat yang berpusat pada manusia, adil, dan berkelanjutan

Kata Kunci: Pendidikan Karakter, Society 5.0, Teknologi, Sekolsh Dasar, Prodi PGSD Hebat, Prodi PGSD Terbaik

Author: An-Nisa Apriani & Delira Amanda

Sumber Artikel: Keban, Yosep Belen. “Pentingnya pendidikan karakter di era Society 5.0.” Jurnal Reinha 13.1 (2022): 56-67 https://doi.org/10.56358/ejr.v13i1.123

Sumber Gambar: https://www.freepik.com