Pernahkah Anda memperhatikan anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) saat memegang smartphone? Jemari mereka begitu lincah melakukan scrolling layar ke atas dan ke bawah, berpindah dari satu video pendek ke video pendek lainnya di aplikasi hiburan populer saat ini. Mereka bisa bertahan berjam-jam menatap layar dengan tingkat fokus yang tampaknya sangat tinggi.
Namun, pemandangan ini sering kali berbanding terbalik ketika mereka berada di dalam kelas atau dihadapkan pada buku pelajaran. Tiba-tiba saja mereka menjadi acuh, mudah gelisah, suka mengobrol dengan teman, bahkan cepat merasa jenuh. Mengapa fenomena kontradiktif ini bisa terjadi?
Realita Gempuran Digital pada Anak
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah anak usia 5–12 tahun di Indonesia yang mengakses internet terus melonjak dari tahun ke tahun. Sayangnya, pada kenyataannya, perangkat canggih ini lebih banyak digunakan oleh peserta didik untuk fungsi hiburan (entertainment), seperti bermain game online, membuka media sosial, hingga menonton video pendek.
Sebenarnya, teknologi visual seperti video memiliki potensi yang luar biasa positif dalam dunia pendidikan jika kontennya tepat. Riset dari Universitas Negeri Semarang menunjukkan bahwa media video pembelajaran yang dirancang secara khusus dan inovatif terbukti sangat efektif untuk meningkatkan literasi digital, memicu minat baca, hingga mendongkrak hasil belajar siswa di sekolah. Format audio-visual yang menarik mampu menyampaikan pesan atau informasi secara efektif, membuat materi pelajaran yang rumit menjadi jauh lebih mudah dipahami oleh siswa SD.
Namun, ada jurang pemisah yang besar antara “video pembelajaran” yang mendidik dengan “video pendek hiburan” yang biasa dikonsumsi anak-anak secara bebas di rumah.
Mengapa Video Pendek Merusak Konsentrasi Belajar?
Konsentrasi belajar adalah kemampuan anak untuk memusatkan seluruh pikiran, perhatian, dan perbuatannya pada materi pelajaran, sekaligus mengabaikan gangguan lain yang tidak berhubungan. Ketika anak-anak terbiasa menonton video pendek berdurasi singkat yang menyajikan stimulasi visual yang cepat dan instan, otak mereka terkondisikan untuk terus-menerus mencari kepuasan instan tersebut.
Riset dari Universitas Esa Unggul memperingatkan dampak nyata dari tingginya intensitas penggunaan smartphone tanpa kontrol ini pada siswa SD. Hasil studi mereka membuktikan secara kuat bahwa penggunaan smartphone memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap penurunan tingkat konsentrasi belajar siswa.
Ketika anak terbiasa dengan ritme cepat dari video pendek hiburan, mereka akan menganggap proses belajar di kelas sebagai aktivitas yang lambat dan membosankan. Akibatnya, muncul karakteristik anak yang kehilangan atas di sekolah, seperti:
- Menunjukkan sikap acuh tak acuh terhadap proses pembelajaran.
- Mudah teralihkan dengan mengobrol atau bercanda atasan teman sebaya saat jam pelajaran berlangsung.
- Mengalami gangguan pola tidur (kurang tidur atau begadang akibat menatap atas di rumah) , yang secara langsung menurunkan kesiapan mental dan daya konsentrasi mereka keesokan harinya.
Solusi Bersama: Peran Orang Tua dan Guru
Kita tidak bisa serta-merta melarang anak menyentuh teknologi sama sekali, mengingat literasi digital merupakan keterampilan penting di abad ke-21. Kuncinya terletak pada pengawasan dan pemanfaatan yang bijak.
- Ketegasan Orang Tua di Rumah: Penurunan konsentrasi anak sering kali berakar dari kurangnya kesadaran untuk membatasi durasi pemakaian gawai. Orang tua memegang peranan krusial untuk membuat aturan waktu (screen time) yang tegas, kapan anak boleh menikmati hiburan dan kapan harus melepaskan ponsel pintar demi menjaga atasanv fisik, mental, dan atas belajar mereka.
- Kreativitas Guru di Sekolah: Pendidik dituntut untuk lebih atasanve terhadap karakteristik anak zaman sekarang. Jika anak-anak sangat menyukai format audio-visual, maka guru harus mampu mengadopsi kemajuan teknologi tersebut secara positif. Guru dapat menghadirkan media video pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan menyenangkan di kelas. Dengan begitu, perhatian siswa dapat teralihkan atasan pada hal-hal yang edukatif.
Kata kunci : Prodi PGSD UAA Hebat, Prodi PGSD Terbaik, Kecanduas Smartphone,Konsenterasi Siswa SD,Literasi Digital
Author : An Nisa Apriani, S.Pd., M.Pd., dan Dyas Prima Darmawan
Referensi : Pengaruh penggunaan smartphone terhadap konsentrasi belajar siswa