{"id":1491,"date":"2026-09-19T04:59:19","date_gmt":"2026-09-19T04:59:19","guid":{"rendered":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/?p=1491"},"modified":"2026-09-19T04:59:20","modified_gmt":"2026-09-19T04:59:20","slug":"wujudkan-kepedulian-pendidikan-inklusi-mahasiswa-pgsd-uaa-observasi-pembelajaran-di-slb-marsudi-putra-1-bantul","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/2026\/09\/19\/wujudkan-kepedulian-pendidikan-inklusi-mahasiswa-pgsd-uaa-observasi-pembelajaran-di-slb-marsudi-putra-1-bantul\/","title":{"rendered":"Wujudkan Kepedulian Pendidikan Inklusi, Mahasiswa PGSD UAA Observasi Pembelajaran di SLB Marsudi Putra 1 Bantul"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-full is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"726\" height=\"545\" src=\"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/image-1.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-1492\" style=\"width:806px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/image-1.png 726w, https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/image-1-480x360.png 480w\" sizes=\"auto, (min-width: 0px) and (max-width: 480px) 480px, (min-width: 481px) 726px, 100vw\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong><a href=\"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/\">Prodi PGSD Universitas Alma Ata<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Yogyakarta <\/strong>\u2014 <a href=\"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/\">Mahasiswa Program Studi PGSD Universitas Alma Ata (UAA)<\/a> Kelompok 6 melaksanakan kegiatan studi observasi di SLB Marsudi Putra 1 Bantul. Kegiatan ini dilakukan untuk melihat secara langsung proses pembelajaran bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), mulai dari cara guru mengajar, penggunaan media, hingga kegiatan siswa selama pembelajaran.<\/p>\n\n\n\n<p>Berdasarkan hasil observasi, SLB Marsudi Putra 1 Bantul telah menerapkan Kurikulum Merdeka dengan pendekatan deep learning. Pembelajaran disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi masing-masing siswa. Siswa yang ditemui memiliki karakteristik yang beragam, seperti tunagrahita, autisme, dan Down syndrome. Oleh karena itu, guru menyesuaikan cara mengajar agar siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan lebih mudah.<\/p>\n\n\n\n<p>Pembelajaran dilakukan secara klasikal dan individual. Guru memberikan arahan dengan bahasa yang sederhana dan menyesuaikan kegiatan dengan kemampuan siswa. Selain itu, guru menggunakan media konkret dan audiovisual untuk membantu siswa memahami materi. Pembelajaran tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik, tetapi juga melatih kemandirian dan kemampuan siswa dalam melakukan kegiatan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n<p>Selama observasi, mahasiswa melihat bahwa guru membutuhkan kesabaran dan perhatian dalam mendampingi siswa. Setiap siswa memiliki kemampuan dan kebutuhan yang berbeda sehingga guru memberikan pendampingan sesuai dengan kondisi masing-masing. Hal ini memberikan pengalaman bagi mahasiswa bahwa menjadi guru tidak hanya membutuhkan kemampuan menyampaikan materi, tetapi juga kemampuan memahami karakter setiap peserta didik.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, dosen pengampu mata kuliah pendidikan inklusif Program Studi PGSD UAA, Ibu An-Nisa Apriani menyampaikan bahwa kegiatan observasi seperti itu penting bagi mahasiswa sebagai calon guru:<\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cKegiatan observasi seperti ini penting bagi mahasiswa PGSD karena memberikan pengalaman secara langsung dalam memahami karakteristik dan kebutuhan anak berkebutuhan khusus. Mahasiswa tidak hanya belajar mengenai pembelajaran di kelas, tetapi juga belajar bagaimana memberikan pendampingan yang sesuai dengan kemampuan setiap anak. Pengalaman ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk menjadi calon guru yang mampu menghargai keberagaman dan memberikan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Meskipun pembelajaran berjalan dengan baik, masih terdapat beberapa kendala, seperti keterbatasan jumlah tenaga pendidik, belum adanya layanan terapi secara rutin, serta perbedaan kondisi dan pemahaman orang tua. Harefa et al. (2025) menyebutkan bahwa keterbatasan fasilitas pendukung masih menjadi salah satu permasalahan dalam pendidikan inklusi. Karena itu, kerja sama antara sekolah, guru, orang tua, dan pemerintah diperlukan untuk mendukung perkembangan siswa.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi <a href=\"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/\">mahasiswa PGSD UAA<\/a>, kegiatan observasi ini memberikan pengalaman langsung mengenai pembelajaran bagi ABK. Mahasiswa dapat memahami bahwa setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda dan membutuhkan cara pendampingan yang sesuai. Pengalaman tersebut menjadi bekal bagi mahasiswa untuk menjadi calon guru yang lebih sabar, peduli, dan mampu menghargai keberagaman peserta didik.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Referensi:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Harefa, D. L., et al. (2025). Minimnya fasilitas pendukung: Akar masalah pendidikan inklusi. Jurnal Pendidikan Tambusai.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kata Kunci:<\/strong> PGSD UAA, Universitas Alma Ata, pendidikan inklusi, ABK, SLB Marsudi Putra 1 Bantul, Kurikulum Merdeka, deep learning, pembelajaran individual, pembelajaran klasikal, media konkret, observasi pembelajaran.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Author:<\/strong> Suci Rahmawati &amp; Tri Permata Sari<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Prodi PGSD Universitas Alma Ata Yogyakarta \u2014 Mahasiswa Program Studi PGSD Universitas Alma Ata (UAA) Kelompok 6 melaksanakan kegiatan studi observasi di SLB Marsudi Putra 1 Bantul. Kegiatan ini dilakukan untuk melihat secara langsung proses pembelajaran bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), mulai dari cara guru mengajar, penggunaan media, hingga kegiatan siswa selama pembelajaran. Berdasarkan hasil [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"off","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-1491","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1491","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1491"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1491\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1493,"href":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1491\/revisions\/1493"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1491"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1491"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1491"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}