{"id":1288,"date":"2026-05-15T09:17:39","date_gmt":"2026-05-15T09:17:39","guid":{"rendered":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/?p=1288"},"modified":"2026-05-15T09:19:03","modified_gmt":"2026-05-15T09:19:03","slug":"pendidikan-karakter-religius-pada-anak-sekolah-dasar-melalui-kegiatan-pembiasaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/2026\/05\/15\/pendidikan-karakter-religius-pada-anak-sekolah-dasar-melalui-kegiatan-pembiasaan\/","title":{"rendered":"Pendidikan Karakter Religius pada Anak Sekolah Dasar melalui Kegiatan Pembiasaan"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Pengertian Pendidikan Karakter Religius<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pendidikan karakter religius merupakan usaha untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada peserta didik agar tercermin dalam sikap, perkataan, dan tindakan sehari-hari. Nilai religius tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga mencakup perilaku baik seperti jujur, disiplin, menghormati guru, dan peduli terhadap sesama. Penanaman karakter religius sejak usia dini sangat penting karena anak sekolah dasar masih mudah meniru perilaku di lingkungan sekitarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Mahasiswa PGSD di Universitas Alma Ata mempelajari pentingnya pendidikan karakter sebagai bekal menjadi pendidik profesional. Dalam perkuliahan, mahasiswa diajarkan bahwa guru harus mampu menjadi teladan melalui sikap dan perilaku yang baik agar dapat dicontoh oleh peserta didik<strong>.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pentingnya Karakter Religius pada Anak Sekolah Dasar<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Karakter religius penting ditanamkan sejak dini karena menjadi dasar pembentukan kepribadian anak. Anak yang memiliki karakter religius cenderung bersikap sopan, jujur, bertanggung jawab, dan mampu membedakan perilaku baik maupun buruk. Selain itu, karakter religius juga membantu anak memiliki rasa peduli terhadap lingkungan dan orang lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Di era modern saat ini, perkembangan teknologi dan media sosial memberikan pengaruh besar terhadap perilaku anak. Berbagai informasi dapat diakses dengan mudah sehingga anak memerlukan pedoman dalam bersikap agar tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif. Oleh karena itu, pendidikan karakter religius perlu diterapkan secara konsisten di sekolah maupun di rumah.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam perkuliahan di Universitas Alma Ata, mahasiswa PGSD juga dibekali pemahaman mengenai pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pembentukan karakter siswa agar dapat diterapkan secara efektif di sekolah dasar.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kegiatan Pembiasaan dalam Membentuk Karakter Religius<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pembentukan karakter religius dapat dilakukan melalui kegiatan pembiasaan di sekolah. Kegiatan sederhana seperti berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran, mengucapkan salam, membaca doa harian, menjaga kebersihan kelas, dan membantu teman merupakan bentuk pembiasaan karakter religius. Jika dilakukan secara rutin, kegiatan tersebut dapat membentuk kebiasaan positif dalam diri siswa.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam perkuliahan PGSD di Universitas Alma Ata, mahasiswa mempelajari cara merancang pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai karakter religius. Calon guru diajarkan untuk menjadi teladan melalui sikap disiplin, kerja sama, dan saling menghormati selama proses pembelajaran berlangsung.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Peran Guru dan Orang Tua dalam Pendidikan Karakter<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Keberhasilan pendidikan karakter religius tidak lepas dari kerja sama antara guru dan orang tua. Guru berperan sebagai pendidik sekaligus teladan bagi siswa, sedangkan orang tua melanjutkan pembiasaan tersebut di rumah agar nilai-nilai religius dapat tertanam secara konsisten pada diri anak. Mahasiswa PGSD di Universitas Alma Ata juga dibekali kemampuan membangun komunikasi yang baik dengan orang tua siswa agar pendidikan karakter dapat berjalan secara maksimal.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Keywords:<\/strong> Pendidikan Karakter, Pendidikan Moral, Universitas Alma Ata, Karakter Religius, Prodi PGSD.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penulis:<\/strong> An-Nisa Apriani,M.Pd. dan Ana Laily Salsabiila<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Sumber gambar: <\/strong><a href=\"https:\/\/pin.it\/7tt0sW9PN\"><em>https:\/\/share.google\/0hDqg9klTmCv4DR3l<\/em><\/a><em> <\/em><em><\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Sumber Referensi: &nbsp;<\/strong><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.37081\/jipdas.v4i2.1845\"><strong>https:\/\/doi.org\/10.37081\/jipdas.v4i2.1845<\/strong><\/a><strong> , <\/strong><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.23969\/jp.v10i02%60.27881\"><strong>https:\/\/doi.org\/10.23969\/jp.v10i02`.27881<\/strong><\/a><strong><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengertian Pendidikan Karakter Religius Pendidikan karakter religius merupakan usaha untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada peserta didik agar tercermin dalam sikap, perkataan, dan tindakan sehari-hari. Nilai religius tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga mencakup perilaku baik seperti jujur, disiplin, menghormati guru, dan peduli terhadap sesama. Penanaman karakter religius sejak usia dini sangat penting karena anak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":1291,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"off","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-1288","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1288","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1288"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1288\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1290,"href":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1288\/revisions\/1290"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1291"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1288"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1288"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1288"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}