{"id":1129,"date":"2026-05-04T09:00:44","date_gmt":"2026-05-04T09:00:44","guid":{"rendered":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/?p=1129"},"modified":"2026-05-04T09:00:44","modified_gmt":"2026-05-04T09:00:44","slug":"tantangan-literasi-dan-kesehatan-mental-isu-krusial-pendidikan-dasar-pasca-pandemi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/2026\/05\/04\/tantangan-literasi-dan-kesehatan-mental-isu-krusial-pendidikan-dasar-pasca-pandemi\/","title":{"rendered":"Tantangan Literasi dan Kesehatan Mental: Isu Krusial Pendidikan Dasar Pasca-Pandemi"},"content":{"rendered":"\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Pendahuluan<\/h3>\n\n\n\n<p>Memasuki tahun ajaran baru, dunia pendidikan Sekolah Dasar (SD) di Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Meskipun pembelajaran telah kembali sepenuhnya ke sistem tatap muka, dampak panjang dari pembelajaran daring selama masa pandemi masih sangat terasa. Salah satu masalah utama yang muncul adalah learning loss atau ketertinggalan pembelajaran, terutama pada kemampuan literasi dan numerasi dasar siswa. Banyak siswa mengalami kesulitan membaca, menulis, dan memahami konsep matematika sederhana. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena literasi dasar merupakan fondasi utama keberhasilan belajar di jenjang berikutnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain masalah akademik, kondisi psikologis siswa sekolah dasar juga menjadi isu penting. Selama pembelajaran jarak jauh, banyak anak kehilangan kesempatan untuk bersosialisasi secara optimal dengan guru dan teman sebaya. Dampaknya terlihat pada kemampuan regulasi diri, fokus belajar, serta keterampilan sosial mereka. Siswa kelas rendah sering mengalami kesulitan beradaptasi kembali dengan lingkungan sekolah. Beberapa di antaranya menunjukkan kecemasan, kurang percaya diri, hingga perilaku agresif yang tidak biasa. Oleh karena itu, pendidikan dasar saat ini tidak hanya berfokus pada pemulihan akademik, tetapi juga pada kesejahteraan mental dan emosional siswa.<\/p>\n\n\n\n<p>Terdapat tiga isu fundamental yang mendominasi pendidikan dasar saat ini dan memerlukan perhatian serius dari seluruh pihak terkait.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Pemulihan Literasi Dasar dan Strategi Diferensiasi<\/h3>\n\n\n\n<p>Banyak guru di kelas 2, 3, bahkan kelas 4 SD menemukan siswa yang masih belum lancar membaca dan mengenal huruf. Hal ini menjadi dampak nyata dari pembelajaran daring yang kurang maksimal, ditambah dengan kesenjangan fasilitas belajar dan pendampingan orang tua di rumah. Untuk mengatasi kondisi tersebut, pendekatan Teaching at the Right Level (TaRL) mulai banyak diterapkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Strategi TaRL memungkinkan guru mengelompokkan siswa berdasarkan kemampuan aktual mereka, bukan berdasarkan usia atau jenjang kelas. Dengan pendekatan ini, pembelajaran menjadi lebih tepat sasaran karena guru dapat memberikan intervensi sesuai kebutuhan masing-masing siswa. Cara ini membantu mempercepat pemulihan literasi dasar agar tidak ada siswa yang semakin tertinggal.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Urgensi Kesejahteraan Psikologis (Well-being) dan Peran Guru<\/h3>\n\n\n\n<p>Kesehatan mental siswa sekolah dasar kini menjadi perhatian yang tidak dapat diabaikan. Permasalahan ini muncul dalam bentuk kecemasan sekolah, rendahnya kemampuan mengelola emosi, hingga perilaku agresif yang tidak biasa. Situasi ini menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh nilai akademik, tetapi juga oleh kondisi psikologis siswa.<\/p>\n\n\n\n<p>Kurikulum Merdeka mencoba menjawab tantangan ini melalui Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE). Dalam hal ini, guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai fasilitator emosional. Guru perlu menciptakan suasana kelas yang aman, nyaman, dan inklusif agar siswa merasa dihargai dan berani mengekspresikan diri.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. Digitalisasi Pendidikan dan Kesenjangan Kompetensi<\/h3>\n\n\n\n<p>Digitalisasi pendidikan bukan lagi sekadar tentang ketersediaan perangkat, tetapi tentang kualitas pemanfaatannya. Banyak sekolah masih menggunakan teknologi secara sederhana, seperti hanya mengganti buku cetak menjadi file PDF atau menggunakan proyektor untuk ceramah biasa.<\/p>\n\n\n\n<p>Padahal, teknologi seharusnya menjadi alat untuk melatih berpikir kritis, kreativitas, dan kolaborasi siswa. Guru juga perlu membimbing siswa agar bijak dalam menggunakan internet, karena paparan konten negatif dapat memengaruhi moral dan konsentrasi belajar mereka.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Kesimpulan<\/h3>\n\n\n\n<p>Permasalahan pendidikan di sekolah dasar saat ini membutuhkan penanganan yang menyeluruh. Fokus pendidikan tidak hanya pada akademik, tetapi juga pada pemulihan literasi dasar, kesejahteraan psikologis siswa, dan pemanfaatan teknologi secara tepat. Guru, orang tua, dan pemerintah harus bekerja sama untuk menciptakan pembelajaran yang efektif dan humanis. Dengan demikian, sekolah dasar dapat menjadi fondasi kuat dalam membentuk generasi yang cerdas, sehat, dan berkarakter.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pendahuluan Memasuki tahun ajaran baru, dunia pendidikan Sekolah Dasar (SD) di Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Meskipun pembelajaran telah kembali sepenuhnya ke sistem tatap muka, dampak panjang dari pembelajaran daring selama masa pandemi masih sangat terasa. Salah satu masalah utama yang muncul adalah learning loss atau ketertinggalan pembelajaran, terutama pada kemampuan literasi dan numerasi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":1130,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"off","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-1129","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1129","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1129"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1129\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1131,"href":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1129\/revisions\/1131"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1130"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1129"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1129"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pgsd.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1129"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}